1% Ketampanan Nabi Yusuf: Siksaan di Balik Wajah Sempurna (Part 1)
Halo, Sobat Garpuhnet! Pernah nggak ngerasa kalau kelebihan yang kita punya justru jadi beban paling berat? Kenalin Raka, remaja 15 tahun yang punya "kutukan" wajah ganteng. Di saat cowok lain cari perhatian, Raka justru bersembunyi di balik masker hitam.
Tapi, gimana kalau ujian iman datang bukan dari orang asing, melainkan dari orang terdekat yang seharusnya jadi pembimbing? Ini bukan sekadar cerita fiksi, ini adalah refleksi tentang Self Development, Menjaga Pandangan, dan Ekonomi Langit. Penasaran gimana Raka menghadapi fitnah dunia? Yuk, simak kisahnya!
Bab 1: Senyum Itu Bencana
Masa SMP akhirnya kelar. Bagi gue, ijazah itu cuma tiket keluar dari penjara bernama "popularitas sekolah". Gue lelah menjadi pusat perhatian. Gue memutuskan untuk berhenti—bukan berhenti belajar, tapi berhenti menjadi "pajangan" di media sosial.
"Raka mau homeschooling, Bu. Ayah. Raka mau jadi orang biasa, bukan boneka pajangan bisnis Ayah!" ucap gue mantap di meja makan.
Gue pikir, dengan tetap di rumah, hidup gue akan aman dari fitnah dunia. Namun, kenyataan pahit langsung menampol muka gue saat guru bahasa asing pertama gue datang. Namanya Bu Dewi. Saat gue terpaksa membuka masker untuk melatih pelafalan, dunia seolah berhenti bagi beliau. Beliau terdiam kaku, bahkan sampai mimisan parah hanya karena melihat wajah gue dari jarak dekat.
Puncaknya di sore hari ketiga. Bu Dewi memberikan sebuah amplop hitam misterius.
"Mari kita lihat seberapa kuat imanmu menghadapi pesonaku setelah kamu melihat isi amplop itu," bisik hati Bu Dewi yang sudah terobsesi secara tidak sehat.
Malam itu, rasa penasaran remaja gue menang. Gue robek segelnya, dan jantung gue serasa mau copot. Isinya? Foto-foto dan naskah cerita dewasa yang sengaja disusun untuk memancing sisi liar seorang remaja.
"Astagfirullah..." bisik gue lirih.
Gairah remaja gue meledak, mencoba menguasai akal sehat. Tapi tepat saat sisi gelap gue hampir menang, bayangan wajah Ibu dan prinsip menjaga pandangan melintas di kepala. Gue langsung lari ke kamar mandi, mengguyur kepala dengan air dingin, dan bersujud di atas sajadah dalam keheningan sepertiga malam.
Gue pikir godaan itu berakhir di tempat sampah. Tapi gue salah besar. Pagi harinya, sebuah pesan masuk: "I love you, Raka..." diikuti video vulgar.
Puncaknya, saat orang tua gue pergi, Bu Dewi datang dengan pakaian yang sangat berani. Ia menerjang, mencoba menarik paksa baju gue! Gue dorong dia dengan kekuatan penuh.
"KELUAR!" bentak gue.
Bu Dewi lari ketakutan. Tapi saat gue mencoba mengatur napas, mata gue tertuju pada meja belajar. Ponsel Bu Dewi berdiri tegak di sana... dalam kondisi KAMERA MENYALA.
Tulis pendapat kalian di kolom komentar di bawah ya! > Jangan lupa share artikel ini kalau kalian merasa pesan moralnya penting buat anak muda zaman sekarang.
