Menata Isi Kepala: Belajar dari Gita Savitri Tentang Cara Berhenti Overthinking dan Mulai Bahagia
![]() |
| images with gemini by ridwan1723_ |
garpuhnet.com, Pernah nggak sih, malam-malam bukannya tidur, otak kamu malah muter film horor berjudul "Masa Depanku Gimana Ya?" atau "Tadi Gue Salah Ngomong Nggak Ya?". Kalau iya, selamat, kamu resmi jadi anggota klub Overthinker Global.
Tenang, kamu nggak sendirian. Bahkan seorang Gita Savitri Devi, sosok yang kita kenal cerdas, tinggal di Jerman, dan kelihatan "punya segalanya", pernah terjebak di labirin yang sama. Hari ini, kita bakal bedah gimana perjalanan Gita dari yang tadinya penuh kecemasan, sampai bisa jadi sosok yang sangat mindful dan tenang kayak sekarang.
1. Jebakan "Ekspektasi Orang Lain"
Dulu, Gita adalah definisi anak "ambis". Dia merasa harus sukses di negeri orang, harus punya karir mentereng, dan harus memenuhi standar sosial yang ada di kepala banyak orang Indonesia.
Masalahnya, semakin kita mencoba memenuhi gelas orang lain, semakin kering gelas kita sendiri. Gita sempat merasa tertekan karena merasa harus selalu jadi "sempurna". Inilah sumber overthinking pertama: Berusaha jadi orang lain.
2. Titik Balik: Menulis untuk Menyembuhkan
Gita nggak berubah dalam semalam. Senjata rahasianya adalah ekspresi. Lewat blog dan YouTube, dia mulai menuangkan keributan di kepalanya. Dia belajar kalau perasaan cemas itu nggak boleh dipendam, tapi harus diakui.
Dia mulai berani bilang "nggak" pada hal-hal yang nggak cocok sama prinsipnya. Dia belajar kalau hidup bahagia itu bukan berarti masalahnya hilang, tapi tentang gimana kita merespons masalah itu dengan kepala dingin.
3. Dari Toxic ke Authentic
Perjalanan Gita mengajarkan kita satu hal besar: Bahagia itu butuh keberanian.
- Berani buat nggak disukai orang.
- Berani buat punya standar sukses sendiri.
- Berani buat jujur sama diri sendiri kalau kita lagi nggak oke.
Gita bertransformasi dari seseorang yang cemas soal "apa kata dunia" menjadi orang yang fokus pada "apa kata hati".
Sebuah Cerita Singkat: Si Penunggu Kereta
Bayangkan ada seorang pemuda bernama Andi yang selalu takut ketinggalan kereta. Dia lari-larian, napasnya habis, dan jantungnya mau copot karena takut "telat" dibanding teman-temannya yang sudah sampai di tujuan.
Suatu hari, dia capek dan memutuskan duduk sebentar. Ternyata, saat dia diam, dia baru sadar kalau pemandangan di stasiun itu indah banget. Dia sadar kalau setiap orang punya jadwal keretanya masing-masing. Begitu juga kamu, Sobat Garpuhnet. Your pace is okay. Kamu nggak lagi balapan sama siapa-siapa.
Kesimpulan untuk Kita Semua
Overthinking itu kayak kursi goyang. Dia memberimu sesuatu untuk dilakukan, tapi nggak bakal membawamu ke mana-mana. Belajarlah dari perjalanan Gita Savitri: Mulailah terima dirimu, tuliskan kecemasanmu, dan tentukan bahagia versimu sendiri.
Buat kamu yang merasa sudah saatnya membenahi kondisi keuangan supaya pikiran lebih tenang (karena jujur aja, dompet kosong sering jadi sumber overthinking nomor satu, kan?), aku ada sedikit "peta jalan" yang bisa kamu intip.
Di Link Bio Instagram-ku, aku sudah siapkan beberapa panduan dari hati ke hati tentang gimana cara mengubah kondisi keuangan yang berantakan jadi lebih manis, terinspirasi dari kisah-kisah sukses yang paling relatable. Cek aja dulu, siapa tahu ini jawaban yang selama ini kamu cari buat bikin hati lebih tenang.
.webp)